Sunday, 21 December 2014

Review: TOTS 2014 “Sweeney Todd: the Demon Barber of Fleet Street”

Salam Budaya!

Rasa-rasanya standing applause dan uang tiga puluh satu ribu rupiah masih sangat kurang sebagai apresiasi untuk teman-teman Theater of English Department (TED) yang tadi malam menghelat TED on The Stage (TOTS) 2014  dengan lakon “Sweeney Todd: the Demon Barber of Fleet Street”.

19.15 gong berbunyi tiga kali menandakan pementasan segera dimulai. Satu persatu pemain masuk ke panggung dan membentuk barisan ala ala boyband, namun kolosal. Panggung yang sudah dipenuhi berbagai property, semakin penuh dengan ballad of Sweeney Todd yang dibawakan oleh para pemain. Seketika bulu kuduk gue merinding saat semua pemain bernyanyi bersama meneriakan “Sweeney… Sweeney… Sweeney”, sampai akhirnya Sweeney Todd muncul dari bawah di panggung bagian atas - Ya, kali ini, teman-teman TED sudah berani untuk menset panggung menjadi atas dan bawah- dengan teriakan yang mendiamkan pemain lainnya.


(sumber: Path)

Kemudian, act pertama diawali dengan Anthony, pujangga galau yang shading make upnya agak berlebih, yang masuk bersama Mr. Todd tiba di Fleet street sebelum akhirnya Beggar Woman, masuk ke panggung dengan rok yang licin seperti habis disetrika, mungkin karena itu roknya berbahan sutra ya.


(sumber: WA pribadi)

Di scene berikutnya, lakon mengingatkan cerita masa lalu si Mr. Todd, saat beliau tiba di toko Pie milik Mrs. Lovett, yang dibalut tarian tarian dengan kameo bertopeng diiringi tata lampu biru yang aduhai. 


(sumber: WA pribadi)

Setelah itu, Mrs. Lovett dan Mr. Todd berbagi ruangan untuk usaha bersama, ala ala anak muda Pasar Santa kekinian yang membuka barber shop dan toko kue.

Mr. Todd dan Mrs. Lovett menyambangi kediaman Adolfo Pirelli dengan membawa perlengkapan cukurnya. Sesampainya di sana, Tobi – pemeran paling lucu not funny kerjaannya makan mulu tapi ternyata pembunuh – menyambut Mr. Todd dan Mrs. Lovett beserta cameo lainnya, yang termasuk Beadle diantaranya, sembari memamerkan utensils kepunyaan Pirelli. Seketika, terjadi perlombaan cukur janggut dan kumis antara Pirelli dan Mr. Todd. Pirelli dengan aksen Italianya memamerkan keahliannya sambil bernyanyi yang kemudian disambut gelak tawa penonton. Namun, ketengilan beliau menjadi petaka, ketika Mr. Todd dengan sekali gerakan langsung menghabiskan janggut seorang cameo. Dan, perlombaan pun dimenangkan Mr. Todd.


(sumber: WA pribadi)

Pirelli yang tidak terima dengan hasil perlombaan, menyambangi barber shop ala ala Mr. Todd bersama Tobi. Mr. Todd menyuruh Mrs. Lovett untuk meninggalkan Tobi di toko Pie bersamanya. Scene ini keren, karena terjadi percakapan dua sisi (atas-bawah) yang sama-sama penting. Penonton dibuat untuk tetap melek agar tidak terlewat satu detil gerakan dan ucapan dari mereka. Seperti, detil Tobi menggaruk kepala sambil sesekali memainkan sepatunya, dan juga detil Mrs. Lovett yang memasukan racikan aneh di Pie untuk si Tobi. Belum lagi, adegan Mr. Todd yang memukul kepala Pirelli yang dibarengi dengan hentakan Mrs. Lovett saat menipiskan adonan tepung. Keren.


(sumber: WA pribadi)

Kemudian, berlanjut ke scene Anthony yang menggoda Joanna dengan gombalan andalannya “I feel you, Joanna… I'll steal you…” Sampai membuat gue dan sebagian penonton menggumamkan gombalan tersebut di dalam hati setiap Anthony muncul di panggung. Kecantikan Joanna, tidak terlalu nampak  oleh penonton, mungkin karena scene dia selalu ada di bagian atas panggung. Sayang sekali. Sampai akhirnya, tiba juga saat adegan mereka berdua di kamar Joanna, sembari berdansa dan saling memuji sebelum ditutup dengan kecupan yang agaknya cukup romantis di malam minggu gerimis.


(sumber: WA pribadi)

Judge Turpin, orang tua (mengadopsi) Joanna, tidak merestui Anthony yang cuma bermodalkan sajak. -Orang tua mana yang merestui anaknya sama pujangga from nowhere, yang tiba tiba cipok anaknya? - Judge Turpin ini keren sih sebenernya, kalo doi lagi ngomong cepet. Kayak saat adegan mau dibunuh (dicukur janggutnya) sama Mr. Todd tapi untungnya selamet karena pas banget si Anthony dateng ke barbershop.

Masuk ke act kedua, disinilah adegan darah darahan bermunculan. Diawali dibunuhnya seorang cameo – pengunjung biasa -, kemudian Beadle, disusul Beggar Woman yang ternyata adalah mantan istri dari Mr. Todd, berlanjut ke Judge Turpin. Mayat mereka ini, diolah oleh Mrs. Lovett yang ternyata selama ini membuat Pie dari daging manusia. Tanpa dinyana, ternyata Tobi - yang ikut membantu Mrs. Lovett semenjak kematian Pirelli - menyadari hal tersebut. Akhirnya Mr. Todd dan Mrs. Lovett berusaha mencari Tobi agar anak itu tidak membocorkan hal tersebut. Adegan di sini juga dikemas cukup apik. Dengan tata lampu biru gelap, Mr. Todd dan Mrs. Lovett mencari Tobi dengan menggunakan petromak.

Mr. Todd yang menyadari Beggar Woman adalah mantan istrinya, akhirnya murka dengan Mrs. Lovett. Sambil diajak berdansa bersama, Mr. Todd mendorong Mrs. Lovett masuk ke dalam lemari oven panggangan, yang dilengkapi biang es di atasnya untuk memunculkan efek fogging. Teriakan Mrs. Lovett kurang memecah ruangan, mungkin karena sudah terlalu lama di panggung.

Sudah 2 jam lewat pementasan berlalu, scene terakhir, yang seharusnya tidak ditiru oleh anak kecil yang kebetulan menonton adalah, scene Tobi membunuh Mr. Todd, yang kemudian disambut gelegar tepuk tangan di udara, beberapa di antaranya sambil berdiri, oleh seluruh penonton.

Gue, dengan bangga berdiri dari kursi penonton di bagian atas sambil bertepuk tangan tak henti hingga semua casts dan crews dipanggil ke atas panggug. Dalam hati gue bersorak, KEREN BANGET!!.

Setelah semua casts and crews naik ke panggung, Pak Seno – Dosen ED UNJ – kembali memberikan apresiasinya percis seperti TOTS 2013 “Of Mice and Men”. Ucapan selamat dan sukses terlontar dari semua dosen dan alumni TED yang menyempatkan datang ke pementasan.

Gue, cuma bayar tiga puluh satu ribu bisa dapet hiburan teater musikal plus bisa voto-voto bareng casts and crewsnya. It’s Worth to Pay. Ga cuma itu, keluar ruangan, sudah disediakan snacks dan minuman buat para penonton! Kayaknya, tahun depan, kalo ada TOTS lagi, tiket Rp50.000 layak dibanderol.

Terakhir, gue sebagai penonton yang pernah menjadi bagian dari TED, mengucapkan banyak terima kasih buat TED Squad, TED Mates, TED Alumni, dan Dosen di ED UNJ yang sudah membantu mewujudkan TOTS 2014 "Sweeney Todd" serta 300 penonton lainnya yang sudah mau meluangkan waktu malam minggunya bersama-sama walau hujan mengguyur di tanggal tua akhir tahun ini. Terima Kasih!! 

Salam,
CM


Catatan: gue ga voto voto pas pementasan berlangsung, karena gue ga mau kehilangan momen barang sedetik pun di panggung. Voto-voto diatas, hasil colongan dari teman.

Tuesday, 18 November 2014

Anaknya Jokowi Banget

Gue belum sampe di level benci sama Pak Jokowi-JK cuma karena pemerintahan mereka naikin harga premium dan solar dua ribu rupiah. 

Karena, toh gue juga nyoblos beliau pas pemilu yang lalu. Masih banyak sudut pandang yang lebih baik yang bisa gue liat dan gue aminin. Tapi, gue ada di level geregetan sama orang yang pro banget sama pemerintah kali ini. Gue sih dari dulu mencoba cari pandangan yg berbeda dari pemerintah, walaupun bukan bener bener kiri. Cuma, biar pandangan beda aja. Tapi yah, ini orang orang yang dulu sebel banget sama pemerintahan sebelumnya yg mau naikin harga BBM bersubsidi, sekarang malah iya iya aja, sama malah nyerang orang yang mengkritik. 

Maksud gue, kritik itu kan sebagai penyeimbang. Masa elo, iya-iyain aja semua kebijakan pemerintah. Toh, kritik kita mah ga bakal punya efek langsung buat pemerintahan berjalan. Gerakan kritik kami yang sekarang mah ga sehebat kumpulan “salam dua jari” yang bikin konser luar biasa. Kritik kami sekarang mah, cupu. Tapi, tetep lho elo yang pro banget nyinyirin kita. Elo pada, bilang “siapapun Presidennya bakal tetep naikin harga premium-solar. Elo tetep nyinyirin, kalo kami yang ngritik: masih bisa beli rokok, bisa beli smartphone dan lainnya; sebagai pembanding yang tidak sebanding. 

Gini lho, gue ngeliatnya, serba terburu buru. Dari mulai tiga kartu sakti yang sebenernya ga bisa buat jogres ala ala kartu yugioh atau animal kaiser, sampe naikin premium-solar ini, Jokowi kayak hilang simpati sama rakyatnya. Jokowi yang baru pulang dari kunjungan luar negeri malah ujuk-ujuk ngumumin naikin harga bbm subsidi. Beda loh, Jokowi yang dulu pas pertama mimpin Jakarta, yang bener bener cari perhatian dan ambil hati rakyatnya, sekarang terkesan bergerak sendiri sama pemerintahan. Oke, kalau emang doi punya program ini itu, tapi, maksud gue, maintain hati rakyat juga perlu, di awal awal kepemimpinan. 

Waktu pertama-tama megang Jakarta, doi ngambil hati dengan beresin Tanah Abang, waduk dan segala macem. Jadi, biarpun, kemarin Banjir, rakyat (beberapa) tetep legowo, karena hatinya udah diambil. Dan, sekarang Ahok bisa lanjutin program yang udah diset di DKI. Simpati warga DKI tetep tinggi buat Ahok, karena hatinya udah diambil. 

Lah, sekarang? Kalo gue sih tetep nunggu, karena toh gue juga milih beliau, dengan pertimbangan visi misi di bidang pendidikan.



Nah, balik lagi, buat elo elo yang garis keras pro banget sama pemerintahan sekarang, be objective. Kami kami yang kritik, juga punya pemikiran kali, ga elo elo doang kali yang pinter. Gue tau kok, kita kita semua sebenernya peduli sama bangsa kita ini. Tapi, ya gitu, plis, be objective. Janganlah melulu nyinyir sama yang ga sepemahaman sama elo. Jangan karena elo tau SUBJEK itu ga suka sama Jokowi-JK (pendukung Prabowo atau anak PEKAES atau antek KMP) semua yang dia kemukakakan itu salah. Jangan karena kita liat si Subjek, kita jadi ga bisa objektif. Kalau ada yang ga sepahaman ya dikasih tau, dibimbing, kasih argumen yang masuk akal. Jangan menggebu pro, karena elo anaknya Jokowi banget.

Tuesday, 4 November 2014

Kerja, Kabinet Kerja!

Mungkin terlalu telat deh buat hipster untuk nulis beginian, karena hypenya udah lewat jauh. Maklum, saking sibuk kerja jadi sulit buat punya waktu untuk nulis blog. Jadi, hari Minggu (26/10) lalu, Presiden J. resmi mengumumkan kabinetnya, Kabinet Kerja. Gue sih kurang terlalu suka penggunaan kata kerja di sini. Ada beberapa argumen pribadi gue. 

Pertama, di Koran The Jakarta Post, Kabinet Kerja diterjemahkan menjadi Working Cabinet. Berbeda. Beda ketika tim editorial media tersebut menggunakan kata working. Ada beberapa alternatif, seperti doing cabinet, occupying cabinet, operating cabinet, or running cabinet. Gue, pribadi menerjemahkan working cabinet as a cabinet which is worked, functioned, and activated. Bukan working cabinet yang diartikan sebagai kabinet kerja, kerja seperti kuli, kerja seperti supir, kerja seperti pegawai, kerja yang waktunya bisa tak berbatas atau bahkan penuh batasan. Arti kata kerja lebih dari melakukan dan bergerak, tapi berfungsi dan aktif. Kalo melakukan sesuatu tapi tidak berfungsi, apa guna? Tapi tidak aktif, kapan selesai? 

Kemudian, kata kerja memaksa masyarakat menjadi lebih kaku; berbenturan dengan peraturan, waktu, dan kebiasaan. Masyarakat akan terus bergerak, bisa semakin banyak yang sikut sikutan, semakin banyak yang cari muka, semakin tinggi persaingan. Gue tidak siap. Sangat tidak siap dengan persaingan. Gue butuh ruang dan kepercayaan untuk kerja. Bukan waktu atau aturan.  Tapi, karena Belanda dan Jepang sudah membiasakan kita untuk kerja rodi, kerja paksa dan nama asing lainnya, gue rasa masyarakat kita akan merecall memori dan kebiasaan itu secara tidak langsung. Dan, kerjaan kita pun nampaknya agak sulit untuk memiliki fungsi. Masa, harus nunggu beratus-ratus tahun? 

Selain itu, image “kerja” yang ditampilkan oleh Mr. Presiden seperti hanya berupa anti tesis dari pemerintahan sebelumnya yang tidak terlihat kerja, apalagi Mr. Buds. Anti tesis ini tentu saja disambut positif oleh khalayak, apalagi mereka yang jenuh dan lelah dengan lambatnya perubahan. Padahal, nyatanya ya, secara tidak langsung, kondisi ekonomi kita ada di trek yang tepat. Indonesia bisa melewati krisis ekonomi yang dihadapi oleh Negara lain di 10 tahun terakhir. Hal yang berkebalikan ini menjadi seperti pemicu untuk pembuktian, kalo pemerintah juga bisa kerja, tidak hanya penduduknya. Bagus juga! Gue dan teman teman gue akan lebih apresiasi jika pemerintah juga mau ikutan “kerja”. 

Tapi, gue berharap lebih dengan kabinet kerja ini. Kalo gue boleh ngutip omongan orang yang gue cari di google, Maxim Gorky bilang “When work is a pleasure life is joy! When work is a duty, life is slavery”. So, I expect Working Cabinet to Work. 

Di sisi lain, isi kabinet Mr. J cukup variatif, popular, dan menarik. Contohnya, Pak Anies, yang akhirnya sesuai harapan gue dan beberapa orang yang peduli pendidikan, menempati pos Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosok harapan, sosok yang semoga bisa membawa pendidikan wajib 12 tahun, kurikulum 2013, dan sertifikasi guru jadi berfungsi jauh dari korupsi dan taat administrasi. Gue, yang sempat jadi pengajar di SMP swasta selama satu semester, sangat berharap pihak kementrian memperhatikan kinerja guru bukan hanya dari materi sekolah dan kewajiban administratif seperti rapot, penilaian, silabus, dan rpp tetapi juga memperhatikan guru yang belum mengambil sertifikasi dan belum memiliki NUPTK. 

Pihak kementrian bisa memfasilitasi dan mensosialisasi bagaimana sesungguhnya sertifikasi itu berfungsi. Masih banyak teman-teman saya yang baru hitungan semester mengajar di sekolah, belum paham apa itu sertifikasi, apa guna sertifikasi, apa tujuan sertifikasi. Atau, jangan jangan cuma proyek kementrian bernilai jutaan? 

Ah, sudahlah. Apa daya gue meracau serampangan seperti ini? Sudah jelas kok, Mr. J meminta kabinetnya, parlemennya, dan rakyatnya untuk: Kerja, Kerja, Kerja! Lebih baik, gue kembali ke meja kerja, baca berita, analisis, dan bikin summary lagi. 


Mampang Prapatan, 4.11.14
C.M.

Saturday, 5 July 2014

For Those who Belong to Swing Voters

For those who belong to swing voters.
As the 9th July comes…..
Here are the unexpected candidates.
 
Prabowo Subianto – Hatta Rajasa #IndonesiaBangkit
Joko Widodo – Jusuf Kalla #RevolusiMental
 
While I’m writing this blog, I have not decided yet. 

In my opinion, it’s about point of view. I want Anies Baswedan to be the Education and Culture Minister and I don’t wanna be ruled under Chinese in Jakarta.


It’s obvious. In the governor elections in 2012, I elected Faisal Basri, with his tagline “Berdaya Rame-rame”. In fact, Jokowi-Ahok win the election. Later on, Jokowi is pointed by Megawati to be the President candidate from PDI-P. It surprises people, and also Prabowo Subiato, who has already announced to be the president candidate from Gerindra, but not surprises ARB, who tries so hard to be the president, but failed. Just go home, mr. ARB! Next, when Jokowi announced to be the president candidate, many of Jakartans are feared to be governed by Chinese-Ahok. Be honest, guys! Since Jokowi-Ahok rule Jakarta, there are many changes. Tanah Abang, Waduk Ria Rio, and all the sub-district’s major offices as well as the transparency-governance system. Jokowi-Ahok succeed to create civil servants to work for Jakartans. We are served. And, I still need that pair and their contribution for Jakarta, at least for another 3-year. However, I’m afraid that Ahok can’t rule Jakarta with the interventions of people who can’t accept diversity. That’s why many moslem parties support Prabowo-Hatta. Maybe. 

On the other hand, Prabowo reminds us of violence in May 1998. With his military background, he becomes ‘more assertive’ figure than SBY. Many of activists, journalists, celebrities ignore Prabowo. Then, they support Jokowi to win the president election. Most of people who I follow in Twitter, support him, in line with the avatar of “I stand on the right side”, which has already  belonged to the international human rights campaign. Many of them are feared to be governed by Prabowo. They smell “Orba” resurrection. Since the sticker of ‘’wenak Jamanku  tho” appears, we are set to hate SBY-regime by rememorizing the 32-year of Soeharto’s era, the era which limits freedom, creativity, and transparency. 

After all, for me, whoever the President of Indonesia is, I hope that he will elect Anies Baswedan as Education and Culture Minister. Both hashtag #IndonesiaBangkit and #RevolusiMental needs better education which will be provided by mr. Anies. I believe. And, when Anies Baswedan becomes the minister, i’m ready to back to education field, whether a teacher or curriculum planner.  
 
For swing voters, I hope you to elect. Whatever your considerations. Just elect, participate, and celebrate.

Wednesday, 26 March 2014

Alternatives (Re: Mediocre)



Alternatives (Re: Mediocre)

Ada yang kenal mereka?



Salah dua dari peserta konvensi Partai Demokrat. Belakangan, saya memang sering dengan sengaja mengikuti dan mencari berita tentang mereka. Apa saja yang telah mereka lakukan (untuk Negara), latar belakang kehidupan mereka (walalupun Cuma lewat gugel) serta program “kampanye” mereka di sosial media hehe
Yang membuat saya tertarik dengan mereka, tentu saja, adalah kompetensi dan semangat muda yang dekat dengan saya dan teman-teman seumuran angkatan 80-90an hehe (ya ga?)

Sesuai abjad huruf latin, mari kita telaah siapa itu Anies Baswedan.. siap?

Pak Anies Baswedan, di tulisan saya sebelumnya, saya menyebut beliau sebagai politisi, namun sepertinya saya salah. Mari saya luruskan, beliau ini adalah akademisi. Seorang Rektor, penggagas gerakan Indonesia Mengajar, dan bakal calon Presiden dari Partai Demokrat.

Sebagai seorang rektor, beliau katanya berhasil mengubah stigma kampus tersebut, dari kampus cak Nur menjadi kampus Anies. Keren yah? Eh, sebentar… ada yang tau Cak Nur? Nurcholis Madjid? Seorang yang aktif untuk gerakan Islam Liberal? Kerabat mantan Presiden Gusdur? Ya, biar lebih tau silakan gugel sendiri, karena saya mau nulis Pak Anies doang hahahaha Nah, ada apa sampai beliau bisa mengubah stigma kampus tersebut? Sila baca http://rofiuddarojat.wordpress.com/2012/04/14/paramadina-kampus-liberal-sebuah-tabayun// saya dapat artikel itu setelah saya iseng gugling dengan mengetik ………


Kaget? Biasa aja? Ga paham? Atau gatau JIL? *keplak* Saya agak terkejut juga sih. Kenapa ketika saya tulis keyword di atas, sugesti yang muncul malah demikian. Apa benar? Saya juga belom tau, lha wong, ketemu pak Anies aja belom pernah, Cuma liat di layar kaca, layar hp, dan layar tancep (tapi bohong :p) Tapi, memang perlu diakui, pak Anies agak jarang membahas soal islam dalam pidato beliau, mungkin karena memang bukan zona yang nyaman untuk disampaikan oleh beliau. Tapi, saran saya untuk beliau, boleh lah sekali ngetwit soal islam dikit.. hehe (padahal ga bakal dibaca juga :p) udah ah, agak ngeri kalo bahas JIL. Yang penting tetep JIL (Jangan Ikutan Lo!)

Gerakan Indonesia Mengajar. Nah! Inilah, mega proyek pak Anies yang sudah berjalan sekitar 5 tahun sampai sekarang. Sebagai lulusan sarjana kependidikan, saya tau gerakan ini biarpun saya belum ikutan (mau sih). Gerakan ini, keren banget sih. Apalagi sering diliput sama NET tv. Makin banyak orang yang tau, makin banyak anak muda yang mau mengajar ke daerah pelosok di Indonesia, makin banyak anak-anak sd yang dapet ilmu “tambahan” dari pengajar muda di sana. Makin baik buat Indonesia……di bidang pendidikan, pariwisata, dan mungkin perekonomian. Namun, beliau secara mengejutkan dan jantan, mundur dari jabatan ketua Yayasan Indonesia Mengajar seiring keikutsertaan beliau sebagai peserta konvensi calon presiden partai Demokrat. Secara langsung beliau menginfokan ke khalayak ramai.

Namun, karena memang sebagai founder, masyarakat (terutama di pelosok Negara) mudah mengenali beliau di konvensi Partai Demokrat dibanding peserta konvensi lain. Itulah, yang mungkin membuat pak Anies membuat gerakan #turuntangan dan disambut positif oleh masyarakat twitter. Banyak bermunculan akun akun @turuntangan daerahnya masing-masing termasuk kampus saya dahulu @turuntanganUNJ . hebat!

Gerakan #turuntangan pula yang meningkatkan elektabilitas pak Anies di twitter, makin banyak yang masang gambar telapak tangan di avatar twitter mereka. Makin mudah mengkampanye beliau. Makin besar kemungkinan beliau memenangkan konvensi partai Demokrat.

Sayangnya, saya masih mau beliau menjadi menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di 2014. Saya mau pendidikan di Indonesia makin baik dan tidak ada lagi keraguan terhadap pendidikan di negeri sendiri. Saya percaya pak Anies sebagai Menteri Pendidikan, saya siap #turuntangan agar pak Anies bisa ditunjuk sebagai menteri pendidikan. Mengapa begitu? Karena, saya ragu partai Demokrat akan mendapat 20% suara di pemilu legislatif. Yang artinya, partai Demokrat harus berkoalisi dengan partai yang mendapatkan angka 20% untuk mencalonkan presiden untuk pilpres. Saya ragu dengan partai Demokrat, bukan dengan pak Anies Baswedan.

Lanjut.



Gita Wirjawan; A Gooner, a family man, a Piano player, the Minister of Trade RI, and The Head Committee of PB PBSI.

Ini orang, gantengnya luar biasa. Semoga nanti setelah saya berkeluarga saya bisa sekeren beliau hahahaha Beliau ternyata adalah seorang fans Arsenal, sama seperti saya. sebagai pecinta klub yang sama, saya tahu dan yakin kalau kita punya kesamaan visi seperti visi Arsenal Victoria Concordia Crescit (Victory through Harmony) kemenangan lewat keharmonisan. Pasti beliau suka suatu yang harmonis, yang indah, yang rapi, yang muda, yang keren lah pokoknya kayak Arsenal hehe

Selain kesamaan soal klub bola, ternyata beliau juga punya kapabilitas di bidang musik, bermain piano khususnya. Beberapa kali beliau tampil di TV sampil menampilkan keapikannya dalam bermain piano. Tidak hanya itu, beliau juga sempat menjadi bintang tamu di konser slank dan trio lestari. Sungguh memesona, tak seperti beliau yang politisi yang sudah punya album cuma karena bisa main gitar #ifyouknowwhoimean 

Sudah cukup soal hiburannya, masuk ke main course. Mentri Perdagangan RI ini, sempat mengejutkan beberapa orang, saya dan keluarga khususnya. Ayah saya, yang seorang pns (sudah pensiun) di Kemendag  sebelumnya tidak pernah mendengar nama Gita Wirjawan namun, tiba-tiba beliau menjadi mentri menggantikan ibu Mari Elka Pangestu. Siapa beliau? Banyak beberapa beliau mengira beliau adalah seorang professional tadinya….sampai akhirnya ada berita yang menyebutkan bahwa beliau adalah kader dari partai Demokrat. Huufffhhh.. tapi, tak apa, toh beliau memang seorang pebisnis yang juga sekolah bisnis di AS. Pintar.

Sampai ketika beliau menjadi aktor di iklan kemendag, masyarakat mulai mengenalnya, walaupun beberapa banyak yang menyerang. Paras tampan, dan mengkampanyekan 100% Indonesia memang pas agaknya untuk mendorong pamor produk Indonesia dan dirinya pribadi agar laku..hehehe

Baru-baru ini, di pertengahan 2013 yang lalu, beliau ditunjuk sebagai ketua umum pb-pbsi, Persatuan Bulutangkis, dan langsung mempersembahkan gelar juara dunia di China Open. Luar biasa. Mungkin, beliau memberikan atmosfir yang berbeda kepada atlet bulutangkis, sehingga mereka bersemangat untuk meraih gelar juara, dan terbukti! Sudah hampir beberapa tahun, Indonesia gagal mendapatkan gelar juara dunia Bulutangkis, mungkin memang Negara lain yang sedang hebat, tapi poin saya adalah, pak Gita, yang orang baru di bulutangkis, berhasil membawa atlet kita meraih gelar juara. Entah kebetulan atau apa, tapi toh kredit tetap harus diberikan. Salut.

Ya, memang belum banyak yang saya tahu soal pak Gita. Namun, entah mengapa saya punya keyakinan lebih buat beliau. Beliau yang lulusan bisnis dari luar negeri, agaknya bisa mengangkat perekonomian bangsa, beliau yang seorang pemain piano, bisa menyelaraskan masyarakat menjadi harmoni seperti tuts piano putih dan hitam.  

Akhir kata, cukuplah kita punya presiden dari militer. Jangan sampai kita di pimpin orang yang Cuma nasionalis namun kurang agamis (Liberal bukan plural). Indonesia butuh sosok Nasionalis Agamis untuk jadi pemimpin. Siapa?