Tuesday, 18 November 2014

Anaknya Jokowi Banget

Gue belum sampe di level benci sama Pak Jokowi-JK cuma karena pemerintahan mereka naikin harga premium dan solar dua ribu rupiah. 

Karena, toh gue juga nyoblos beliau pas pemilu yang lalu. Masih banyak sudut pandang yang lebih baik yang bisa gue liat dan gue aminin. Tapi, gue ada di level geregetan sama orang yang pro banget sama pemerintah kali ini. Gue sih dari dulu mencoba cari pandangan yg berbeda dari pemerintah, walaupun bukan bener bener kiri. Cuma, biar pandangan beda aja. Tapi yah, ini orang orang yang dulu sebel banget sama pemerintahan sebelumnya yg mau naikin harga BBM bersubsidi, sekarang malah iya iya aja, sama malah nyerang orang yang mengkritik. 

Maksud gue, kritik itu kan sebagai penyeimbang. Masa elo, iya-iyain aja semua kebijakan pemerintah. Toh, kritik kita mah ga bakal punya efek langsung buat pemerintahan berjalan. Gerakan kritik kami yang sekarang mah ga sehebat kumpulan “salam dua jari” yang bikin konser luar biasa. Kritik kami sekarang mah, cupu. Tapi, tetep lho elo yang pro banget nyinyirin kita. Elo pada, bilang “siapapun Presidennya bakal tetep naikin harga premium-solar. Elo tetep nyinyirin, kalo kami yang ngritik: masih bisa beli rokok, bisa beli smartphone dan lainnya; sebagai pembanding yang tidak sebanding. 

Gini lho, gue ngeliatnya, serba terburu buru. Dari mulai tiga kartu sakti yang sebenernya ga bisa buat jogres ala ala kartu yugioh atau animal kaiser, sampe naikin premium-solar ini, Jokowi kayak hilang simpati sama rakyatnya. Jokowi yang baru pulang dari kunjungan luar negeri malah ujuk-ujuk ngumumin naikin harga bbm subsidi. Beda loh, Jokowi yang dulu pas pertama mimpin Jakarta, yang bener bener cari perhatian dan ambil hati rakyatnya, sekarang terkesan bergerak sendiri sama pemerintahan. Oke, kalau emang doi punya program ini itu, tapi, maksud gue, maintain hati rakyat juga perlu, di awal awal kepemimpinan. 

Waktu pertama-tama megang Jakarta, doi ngambil hati dengan beresin Tanah Abang, waduk dan segala macem. Jadi, biarpun, kemarin Banjir, rakyat (beberapa) tetep legowo, karena hatinya udah diambil. Dan, sekarang Ahok bisa lanjutin program yang udah diset di DKI. Simpati warga DKI tetep tinggi buat Ahok, karena hatinya udah diambil. 

Lah, sekarang? Kalo gue sih tetep nunggu, karena toh gue juga milih beliau, dengan pertimbangan visi misi di bidang pendidikan.



Nah, balik lagi, buat elo elo yang garis keras pro banget sama pemerintahan sekarang, be objective. Kami kami yang kritik, juga punya pemikiran kali, ga elo elo doang kali yang pinter. Gue tau kok, kita kita semua sebenernya peduli sama bangsa kita ini. Tapi, ya gitu, plis, be objective. Janganlah melulu nyinyir sama yang ga sepemahaman sama elo. Jangan karena elo tau SUBJEK itu ga suka sama Jokowi-JK (pendukung Prabowo atau anak PEKAES atau antek KMP) semua yang dia kemukakakan itu salah. Jangan karena kita liat si Subjek, kita jadi ga bisa objektif. Kalau ada yang ga sepahaman ya dikasih tau, dibimbing, kasih argumen yang masuk akal. Jangan menggebu pro, karena elo anaknya Jokowi banget.

Tuesday, 4 November 2014

Kerja, Kabinet Kerja!

Mungkin terlalu telat deh buat hipster untuk nulis beginian, karena hypenya udah lewat jauh. Maklum, saking sibuk kerja jadi sulit buat punya waktu untuk nulis blog. Jadi, hari Minggu (26/10) lalu, Presiden J. resmi mengumumkan kabinetnya, Kabinet Kerja. Gue sih kurang terlalu suka penggunaan kata kerja di sini. Ada beberapa argumen pribadi gue. 

Pertama, di Koran The Jakarta Post, Kabinet Kerja diterjemahkan menjadi Working Cabinet. Berbeda. Beda ketika tim editorial media tersebut menggunakan kata working. Ada beberapa alternatif, seperti doing cabinet, occupying cabinet, operating cabinet, or running cabinet. Gue, pribadi menerjemahkan working cabinet as a cabinet which is worked, functioned, and activated. Bukan working cabinet yang diartikan sebagai kabinet kerja, kerja seperti kuli, kerja seperti supir, kerja seperti pegawai, kerja yang waktunya bisa tak berbatas atau bahkan penuh batasan. Arti kata kerja lebih dari melakukan dan bergerak, tapi berfungsi dan aktif. Kalo melakukan sesuatu tapi tidak berfungsi, apa guna? Tapi tidak aktif, kapan selesai? 

Kemudian, kata kerja memaksa masyarakat menjadi lebih kaku; berbenturan dengan peraturan, waktu, dan kebiasaan. Masyarakat akan terus bergerak, bisa semakin banyak yang sikut sikutan, semakin banyak yang cari muka, semakin tinggi persaingan. Gue tidak siap. Sangat tidak siap dengan persaingan. Gue butuh ruang dan kepercayaan untuk kerja. Bukan waktu atau aturan.  Tapi, karena Belanda dan Jepang sudah membiasakan kita untuk kerja rodi, kerja paksa dan nama asing lainnya, gue rasa masyarakat kita akan merecall memori dan kebiasaan itu secara tidak langsung. Dan, kerjaan kita pun nampaknya agak sulit untuk memiliki fungsi. Masa, harus nunggu beratus-ratus tahun? 

Selain itu, image “kerja” yang ditampilkan oleh Mr. Presiden seperti hanya berupa anti tesis dari pemerintahan sebelumnya yang tidak terlihat kerja, apalagi Mr. Buds. Anti tesis ini tentu saja disambut positif oleh khalayak, apalagi mereka yang jenuh dan lelah dengan lambatnya perubahan. Padahal, nyatanya ya, secara tidak langsung, kondisi ekonomi kita ada di trek yang tepat. Indonesia bisa melewati krisis ekonomi yang dihadapi oleh Negara lain di 10 tahun terakhir. Hal yang berkebalikan ini menjadi seperti pemicu untuk pembuktian, kalo pemerintah juga bisa kerja, tidak hanya penduduknya. Bagus juga! Gue dan teman teman gue akan lebih apresiasi jika pemerintah juga mau ikutan “kerja”. 

Tapi, gue berharap lebih dengan kabinet kerja ini. Kalo gue boleh ngutip omongan orang yang gue cari di google, Maxim Gorky bilang “When work is a pleasure life is joy! When work is a duty, life is slavery”. So, I expect Working Cabinet to Work. 

Di sisi lain, isi kabinet Mr. J cukup variatif, popular, dan menarik. Contohnya, Pak Anies, yang akhirnya sesuai harapan gue dan beberapa orang yang peduli pendidikan, menempati pos Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosok harapan, sosok yang semoga bisa membawa pendidikan wajib 12 tahun, kurikulum 2013, dan sertifikasi guru jadi berfungsi jauh dari korupsi dan taat administrasi. Gue, yang sempat jadi pengajar di SMP swasta selama satu semester, sangat berharap pihak kementrian memperhatikan kinerja guru bukan hanya dari materi sekolah dan kewajiban administratif seperti rapot, penilaian, silabus, dan rpp tetapi juga memperhatikan guru yang belum mengambil sertifikasi dan belum memiliki NUPTK. 

Pihak kementrian bisa memfasilitasi dan mensosialisasi bagaimana sesungguhnya sertifikasi itu berfungsi. Masih banyak teman-teman saya yang baru hitungan semester mengajar di sekolah, belum paham apa itu sertifikasi, apa guna sertifikasi, apa tujuan sertifikasi. Atau, jangan jangan cuma proyek kementrian bernilai jutaan? 

Ah, sudahlah. Apa daya gue meracau serampangan seperti ini? Sudah jelas kok, Mr. J meminta kabinetnya, parlemennya, dan rakyatnya untuk: Kerja, Kerja, Kerja! Lebih baik, gue kembali ke meja kerja, baca berita, analisis, dan bikin summary lagi. 


Mampang Prapatan, 4.11.14
C.M.