Salam Budaya!
Rasa-rasanya standing applause dan uang tiga puluh satu ribu rupiah masih sangat
kurang sebagai apresiasi untuk teman-teman Theater of English Department (TED)
yang tadi malam menghelat TED on The Stage (TOTS) 2014 dengan lakon “Sweeney Todd: the Demon Barber
of Fleet Street”.
19.15 gong berbunyi tiga kali
menandakan pementasan segera dimulai. Satu persatu pemain masuk ke panggung dan
membentuk barisan ala ala boyband, namun kolosal. Panggung yang sudah dipenuhi
berbagai property, semakin penuh dengan ballad
of Sweeney Todd yang dibawakan oleh para pemain. Seketika bulu kuduk gue
merinding saat semua pemain bernyanyi bersama meneriakan “Sweeney… Sweeney… Sweeney”, sampai akhirnya Sweeney Todd muncul
dari bawah di panggung bagian atas - Ya, kali ini, teman-teman TED sudah berani
untuk menset panggung menjadi atas dan bawah- dengan teriakan yang mendiamkan
pemain lainnya.
(sumber: Path)
Kemudian, act pertama diawali dengan Anthony, pujangga galau yang shading make upnya agak berlebih, yang masuk
bersama Mr. Todd tiba di Fleet street sebelum akhirnya Beggar Woman, masuk ke
panggung dengan rok yang licin seperti habis disetrika, mungkin karena itu
roknya berbahan sutra ya.
(sumber: WA pribadi)
Di scene berikutnya, lakon mengingatkan
cerita masa lalu si Mr. Todd, saat beliau tiba di toko Pie milik Mrs. Lovett,
yang dibalut tarian tarian dengan kameo bertopeng diiringi tata lampu biru yang
aduhai.
(sumber: WA pribadi)
Setelah itu, Mrs. Lovett dan Mr.
Todd berbagi ruangan untuk usaha bersama, ala ala anak muda Pasar Santa
kekinian yang membuka barber shop dan toko kue.
Mr. Todd dan Mrs. Lovett menyambangi
kediaman Adolfo Pirelli dengan membawa perlengkapan cukurnya. Sesampainya di
sana, Tobi – pemeran paling lucu not
funny kerjaannya makan mulu tapi ternyata pembunuh – menyambut Mr. Todd dan
Mrs. Lovett beserta cameo lainnya, yang termasuk Beadle diantaranya, sembari
memamerkan utensils kepunyaan
Pirelli. Seketika, terjadi perlombaan cukur janggut dan kumis antara Pirelli
dan Mr. Todd. Pirelli dengan aksen Italianya memamerkan keahliannya sambil bernyanyi
yang kemudian disambut gelak tawa penonton. Namun, ketengilan beliau menjadi
petaka, ketika Mr. Todd dengan sekali gerakan langsung menghabiskan janggut
seorang cameo. Dan, perlombaan pun dimenangkan Mr. Todd.
(sumber: WA pribadi)
Pirelli yang tidak terima dengan
hasil perlombaan, menyambangi barber shop ala ala Mr. Todd bersama Tobi. Mr.
Todd menyuruh Mrs. Lovett untuk meninggalkan Tobi di toko Pie bersamanya. Scene
ini keren, karena terjadi percakapan dua sisi (atas-bawah) yang sama-sama
penting. Penonton dibuat untuk tetap melek agar tidak terlewat satu detil
gerakan dan ucapan dari mereka. Seperti, detil Tobi menggaruk kepala sambil
sesekali memainkan sepatunya, dan juga detil Mrs. Lovett yang memasukan racikan
aneh di Pie untuk si Tobi. Belum lagi, adegan Mr. Todd yang memukul kepala
Pirelli yang dibarengi dengan hentakan Mrs. Lovett saat menipiskan adonan
tepung. Keren.
(sumber: WA pribadi)
Kemudian, berlanjut ke scene
Anthony yang menggoda Joanna dengan gombalan andalannya “I feel you, Joanna… I'll steal you…” Sampai membuat gue dan sebagian
penonton menggumamkan gombalan tersebut di dalam hati setiap Anthony muncul di
panggung. Kecantikan Joanna, tidak terlalu nampak oleh penonton, mungkin karena scene dia selalu
ada di bagian atas panggung. Sayang sekali. Sampai akhirnya, tiba juga saat
adegan mereka berdua di kamar Joanna, sembari berdansa dan saling memuji
sebelum ditutup dengan kecupan yang agaknya cukup romantis di malam minggu
gerimis.
(sumber: WA pribadi)
Judge Turpin, orang tua (mengadopsi)
Joanna, tidak merestui Anthony yang cuma bermodalkan sajak. -Orang tua mana
yang merestui anaknya sama pujangga from
nowhere, yang tiba tiba cipok anaknya? - Judge Turpin ini keren sih
sebenernya, kalo doi lagi ngomong cepet. Kayak saat adegan mau dibunuh (dicukur
janggutnya) sama Mr. Todd tapi untungnya selamet karena pas banget si Anthony dateng
ke barbershop.
Masuk ke act kedua, disinilah
adegan darah darahan bermunculan. Diawali dibunuhnya seorang cameo – pengunjung
biasa -, kemudian Beadle, disusul Beggar Woman yang ternyata adalah mantan
istri dari Mr. Todd, berlanjut ke Judge Turpin. Mayat mereka ini, diolah oleh
Mrs. Lovett yang ternyata selama ini membuat Pie dari daging manusia. Tanpa
dinyana, ternyata Tobi - yang ikut membantu Mrs. Lovett semenjak kematian
Pirelli - menyadari hal tersebut. Akhirnya Mr. Todd dan Mrs. Lovett berusaha
mencari Tobi agar anak itu tidak membocorkan hal tersebut. Adegan di sini juga
dikemas cukup apik. Dengan tata lampu biru gelap, Mr. Todd dan Mrs. Lovett
mencari Tobi dengan menggunakan petromak.
Mr. Todd yang menyadari Beggar
Woman adalah mantan istrinya, akhirnya murka dengan Mrs. Lovett. Sambil diajak
berdansa bersama, Mr. Todd mendorong Mrs. Lovett masuk ke dalam lemari oven
panggangan, yang dilengkapi biang es di atasnya untuk memunculkan efek fogging. Teriakan Mrs. Lovett kurang
memecah ruangan, mungkin karena sudah terlalu lama di panggung.
Sudah 2 jam lewat pementasan
berlalu, scene terakhir, yang seharusnya tidak ditiru oleh anak kecil yang
kebetulan menonton adalah, scene Tobi membunuh Mr. Todd, yang kemudian disambut
gelegar tepuk tangan di udara, beberapa di antaranya sambil berdiri, oleh
seluruh penonton.
Gue, dengan bangga berdiri dari
kursi penonton di bagian atas sambil bertepuk tangan tak henti hingga semua casts
dan crews dipanggil ke atas panggug. Dalam hati gue bersorak, KEREN BANGET!!.
Setelah semua casts and crews
naik ke panggung, Pak Seno – Dosen ED UNJ – kembali memberikan apresiasinya percis
seperti TOTS 2013 “Of Mice and Men”. Ucapan selamat dan sukses terlontar dari
semua dosen dan alumni TED yang menyempatkan datang ke pementasan.
Gue, cuma bayar tiga puluh satu
ribu bisa dapet hiburan teater musikal plus
bisa voto-voto bareng casts and crewsnya.
It’s Worth to Pay. Ga cuma itu,
keluar ruangan, sudah disediakan snacks
dan minuman buat para penonton! Kayaknya, tahun depan, kalo ada TOTS lagi,
tiket Rp50.000 layak dibanderol.
Terakhir, gue sebagai penonton yang pernah menjadi bagian dari TED, mengucapkan banyak terima kasih buat TED Squad, TED Mates, TED Alumni, dan Dosen di ED UNJ yang sudah membantu mewujudkan TOTS 2014 "Sweeney Todd" serta 300 penonton lainnya yang sudah mau meluangkan waktu malam minggunya bersama-sama walau hujan mengguyur di tanggal tua akhir tahun ini. Terima Kasih!!
Terakhir, gue sebagai penonton yang pernah menjadi bagian dari TED, mengucapkan banyak terima kasih buat TED Squad, TED Mates, TED Alumni, dan Dosen di ED UNJ yang sudah membantu mewujudkan TOTS 2014 "Sweeney Todd" serta 300 penonton lainnya yang sudah mau meluangkan waktu malam minggunya bersama-sama walau hujan mengguyur di tanggal tua akhir tahun ini. Terima Kasih!!
Salam,
CM
Catatan: gue ga voto voto pas
pementasan berlangsung, karena gue ga mau kehilangan momen barang sedetik pun
di panggung. Voto-voto diatas, hasil colongan dari teman.






No comments:
Post a Comment