Sunday, 21 December 2014

Review: TOTS 2014 “Sweeney Todd: the Demon Barber of Fleet Street”

Salam Budaya!

Rasa-rasanya standing applause dan uang tiga puluh satu ribu rupiah masih sangat kurang sebagai apresiasi untuk teman-teman Theater of English Department (TED) yang tadi malam menghelat TED on The Stage (TOTS) 2014  dengan lakon “Sweeney Todd: the Demon Barber of Fleet Street”.

19.15 gong berbunyi tiga kali menandakan pementasan segera dimulai. Satu persatu pemain masuk ke panggung dan membentuk barisan ala ala boyband, namun kolosal. Panggung yang sudah dipenuhi berbagai property, semakin penuh dengan ballad of Sweeney Todd yang dibawakan oleh para pemain. Seketika bulu kuduk gue merinding saat semua pemain bernyanyi bersama meneriakan “Sweeney… Sweeney… Sweeney”, sampai akhirnya Sweeney Todd muncul dari bawah di panggung bagian atas - Ya, kali ini, teman-teman TED sudah berani untuk menset panggung menjadi atas dan bawah- dengan teriakan yang mendiamkan pemain lainnya.


(sumber: Path)

Kemudian, act pertama diawali dengan Anthony, pujangga galau yang shading make upnya agak berlebih, yang masuk bersama Mr. Todd tiba di Fleet street sebelum akhirnya Beggar Woman, masuk ke panggung dengan rok yang licin seperti habis disetrika, mungkin karena itu roknya berbahan sutra ya.


(sumber: WA pribadi)

Di scene berikutnya, lakon mengingatkan cerita masa lalu si Mr. Todd, saat beliau tiba di toko Pie milik Mrs. Lovett, yang dibalut tarian tarian dengan kameo bertopeng diiringi tata lampu biru yang aduhai. 


(sumber: WA pribadi)

Setelah itu, Mrs. Lovett dan Mr. Todd berbagi ruangan untuk usaha bersama, ala ala anak muda Pasar Santa kekinian yang membuka barber shop dan toko kue.

Mr. Todd dan Mrs. Lovett menyambangi kediaman Adolfo Pirelli dengan membawa perlengkapan cukurnya. Sesampainya di sana, Tobi – pemeran paling lucu not funny kerjaannya makan mulu tapi ternyata pembunuh – menyambut Mr. Todd dan Mrs. Lovett beserta cameo lainnya, yang termasuk Beadle diantaranya, sembari memamerkan utensils kepunyaan Pirelli. Seketika, terjadi perlombaan cukur janggut dan kumis antara Pirelli dan Mr. Todd. Pirelli dengan aksen Italianya memamerkan keahliannya sambil bernyanyi yang kemudian disambut gelak tawa penonton. Namun, ketengilan beliau menjadi petaka, ketika Mr. Todd dengan sekali gerakan langsung menghabiskan janggut seorang cameo. Dan, perlombaan pun dimenangkan Mr. Todd.


(sumber: WA pribadi)

Pirelli yang tidak terima dengan hasil perlombaan, menyambangi barber shop ala ala Mr. Todd bersama Tobi. Mr. Todd menyuruh Mrs. Lovett untuk meninggalkan Tobi di toko Pie bersamanya. Scene ini keren, karena terjadi percakapan dua sisi (atas-bawah) yang sama-sama penting. Penonton dibuat untuk tetap melek agar tidak terlewat satu detil gerakan dan ucapan dari mereka. Seperti, detil Tobi menggaruk kepala sambil sesekali memainkan sepatunya, dan juga detil Mrs. Lovett yang memasukan racikan aneh di Pie untuk si Tobi. Belum lagi, adegan Mr. Todd yang memukul kepala Pirelli yang dibarengi dengan hentakan Mrs. Lovett saat menipiskan adonan tepung. Keren.


(sumber: WA pribadi)

Kemudian, berlanjut ke scene Anthony yang menggoda Joanna dengan gombalan andalannya “I feel you, Joanna… I'll steal you…” Sampai membuat gue dan sebagian penonton menggumamkan gombalan tersebut di dalam hati setiap Anthony muncul di panggung. Kecantikan Joanna, tidak terlalu nampak  oleh penonton, mungkin karena scene dia selalu ada di bagian atas panggung. Sayang sekali. Sampai akhirnya, tiba juga saat adegan mereka berdua di kamar Joanna, sembari berdansa dan saling memuji sebelum ditutup dengan kecupan yang agaknya cukup romantis di malam minggu gerimis.


(sumber: WA pribadi)

Judge Turpin, orang tua (mengadopsi) Joanna, tidak merestui Anthony yang cuma bermodalkan sajak. -Orang tua mana yang merestui anaknya sama pujangga from nowhere, yang tiba tiba cipok anaknya? - Judge Turpin ini keren sih sebenernya, kalo doi lagi ngomong cepet. Kayak saat adegan mau dibunuh (dicukur janggutnya) sama Mr. Todd tapi untungnya selamet karena pas banget si Anthony dateng ke barbershop.

Masuk ke act kedua, disinilah adegan darah darahan bermunculan. Diawali dibunuhnya seorang cameo – pengunjung biasa -, kemudian Beadle, disusul Beggar Woman yang ternyata adalah mantan istri dari Mr. Todd, berlanjut ke Judge Turpin. Mayat mereka ini, diolah oleh Mrs. Lovett yang ternyata selama ini membuat Pie dari daging manusia. Tanpa dinyana, ternyata Tobi - yang ikut membantu Mrs. Lovett semenjak kematian Pirelli - menyadari hal tersebut. Akhirnya Mr. Todd dan Mrs. Lovett berusaha mencari Tobi agar anak itu tidak membocorkan hal tersebut. Adegan di sini juga dikemas cukup apik. Dengan tata lampu biru gelap, Mr. Todd dan Mrs. Lovett mencari Tobi dengan menggunakan petromak.

Mr. Todd yang menyadari Beggar Woman adalah mantan istrinya, akhirnya murka dengan Mrs. Lovett. Sambil diajak berdansa bersama, Mr. Todd mendorong Mrs. Lovett masuk ke dalam lemari oven panggangan, yang dilengkapi biang es di atasnya untuk memunculkan efek fogging. Teriakan Mrs. Lovett kurang memecah ruangan, mungkin karena sudah terlalu lama di panggung.

Sudah 2 jam lewat pementasan berlalu, scene terakhir, yang seharusnya tidak ditiru oleh anak kecil yang kebetulan menonton adalah, scene Tobi membunuh Mr. Todd, yang kemudian disambut gelegar tepuk tangan di udara, beberapa di antaranya sambil berdiri, oleh seluruh penonton.

Gue, dengan bangga berdiri dari kursi penonton di bagian atas sambil bertepuk tangan tak henti hingga semua casts dan crews dipanggil ke atas panggug. Dalam hati gue bersorak, KEREN BANGET!!.

Setelah semua casts and crews naik ke panggung, Pak Seno – Dosen ED UNJ – kembali memberikan apresiasinya percis seperti TOTS 2013 “Of Mice and Men”. Ucapan selamat dan sukses terlontar dari semua dosen dan alumni TED yang menyempatkan datang ke pementasan.

Gue, cuma bayar tiga puluh satu ribu bisa dapet hiburan teater musikal plus bisa voto-voto bareng casts and crewsnya. It’s Worth to Pay. Ga cuma itu, keluar ruangan, sudah disediakan snacks dan minuman buat para penonton! Kayaknya, tahun depan, kalo ada TOTS lagi, tiket Rp50.000 layak dibanderol.

Terakhir, gue sebagai penonton yang pernah menjadi bagian dari TED, mengucapkan banyak terima kasih buat TED Squad, TED Mates, TED Alumni, dan Dosen di ED UNJ yang sudah membantu mewujudkan TOTS 2014 "Sweeney Todd" serta 300 penonton lainnya yang sudah mau meluangkan waktu malam minggunya bersama-sama walau hujan mengguyur di tanggal tua akhir tahun ini. Terima Kasih!! 

Salam,
CM


Catatan: gue ga voto voto pas pementasan berlangsung, karena gue ga mau kehilangan momen barang sedetik pun di panggung. Voto-voto diatas, hasil colongan dari teman.