Mungkin terlalu telat deh buat hipster untuk nulis beginian, karena hypenya udah lewat jauh. Maklum, saking sibuk kerja jadi sulit buat punya waktu untuk nulis blog. Jadi, hari Minggu (26/10) lalu, Presiden J. resmi
mengumumkan kabinetnya, Kabinet Kerja. Gue sih kurang terlalu suka penggunaan
kata kerja di sini. Ada beberapa argumen pribadi gue.
Pertama, di Koran The Jakarta Post, Kabinet Kerja
diterjemahkan menjadi Working Cabinet. Berbeda.
Beda ketika tim editorial media tersebut menggunakan kata working. Ada beberapa alternatif, seperti doing cabinet, occupying cabinet, operating cabinet, or running
cabinet. Gue, pribadi menerjemahkan working
cabinet as a cabinet which is worked, functioned, and activated. Bukan
working cabinet yang diartikan sebagai kabinet kerja, kerja seperti kuli, kerja
seperti supir, kerja seperti pegawai, kerja yang waktunya bisa tak berbatas atau
bahkan penuh batasan. Arti kata kerja lebih dari melakukan dan bergerak, tapi
berfungsi dan aktif. Kalo melakukan sesuatu tapi tidak berfungsi, apa guna?
Tapi tidak aktif, kapan selesai?
Kemudian, kata kerja memaksa masyarakat
menjadi lebih kaku; berbenturan dengan peraturan, waktu, dan kebiasaan. Masyarakat
akan terus bergerak, bisa semakin banyak yang sikut sikutan, semakin banyak
yang cari muka, semakin tinggi persaingan. Gue tidak siap. Sangat tidak siap
dengan persaingan. Gue butuh ruang dan kepercayaan untuk kerja. Bukan waktu
atau aturan. Tapi, karena Belanda dan
Jepang sudah membiasakan kita untuk kerja rodi, kerja paksa dan nama asing
lainnya, gue rasa masyarakat kita akan merecall memori dan kebiasaan itu secara
tidak langsung. Dan, kerjaan kita pun nampaknya agak sulit untuk memiliki
fungsi. Masa, harus nunggu beratus-ratus tahun?
Selain itu, image “kerja” yang ditampilkan oleh Mr.
Presiden seperti hanya berupa anti tesis dari pemerintahan sebelumnya yang
tidak terlihat kerja, apalagi Mr. Buds. Anti tesis ini tentu saja disambut positif
oleh khalayak, apalagi mereka yang jenuh dan lelah dengan lambatnya perubahan.
Padahal, nyatanya ya, secara tidak langsung, kondisi ekonomi kita ada di trek yang tepat.
Indonesia bisa melewati krisis ekonomi yang dihadapi oleh Negara lain di 10 tahun
terakhir. Hal yang berkebalikan ini menjadi seperti pemicu untuk pembuktian, kalo pemerintah juga bisa kerja, tidak hanya penduduknya. Bagus juga! Gue dan
teman teman gue akan lebih apresiasi jika pemerintah juga mau ikutan “kerja”.
Tapi, gue berharap lebih dengan kabinet kerja ini. Kalo gue boleh ngutip
omongan orang yang gue cari di google, Maxim Gorky bilang “When work is a
pleasure life is joy! When work is a duty, life is slavery”. So, I expect Working
Cabinet to Work.
Di sisi lain, isi kabinet Mr. J cukup variatif, popular, dan
menarik. Contohnya, Pak Anies, yang akhirnya sesuai harapan gue dan beberapa
orang yang peduli pendidikan, menempati pos Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sosok harapan, sosok yang semoga bisa membawa pendidikan wajib 12 tahun,
kurikulum 2013, dan sertifikasi guru jadi berfungsi jauh dari korupsi dan taat
administrasi. Gue, yang sempat jadi pengajar di SMP swasta selama satu
semester, sangat berharap pihak kementrian memperhatikan kinerja guru bukan
hanya dari materi sekolah dan kewajiban administratif seperti rapot, penilaian,
silabus, dan rpp tetapi juga memperhatikan guru yang belum mengambil
sertifikasi dan belum memiliki NUPTK.
Pihak kementrian bisa memfasilitasi dan
mensosialisasi bagaimana sesungguhnya sertifikasi itu berfungsi. Masih banyak
teman-teman saya yang baru hitungan semester mengajar di sekolah, belum paham
apa itu sertifikasi, apa guna sertifikasi, apa tujuan sertifikasi. Atau, jangan
jangan cuma proyek kementrian bernilai jutaan?
Ah, sudahlah. Apa daya gue
meracau serampangan seperti ini? Sudah jelas kok, Mr. J meminta kabinetnya,
parlemennya, dan rakyatnya untuk: Kerja, Kerja, Kerja! Lebih baik, gue kembali
ke meja kerja, baca berita, analisis, dan bikin summary lagi.
Mampang Prapatan, 4.11.14
C.M.
Duh!
ReplyDeleteYaudah kerja lagi aja kamu.. Bhay~