Tuesday, 4 November 2014

Kerja, Kabinet Kerja!

Mungkin terlalu telat deh buat hipster untuk nulis beginian, karena hypenya udah lewat jauh. Maklum, saking sibuk kerja jadi sulit buat punya waktu untuk nulis blog. Jadi, hari Minggu (26/10) lalu, Presiden J. resmi mengumumkan kabinetnya, Kabinet Kerja. Gue sih kurang terlalu suka penggunaan kata kerja di sini. Ada beberapa argumen pribadi gue. 

Pertama, di Koran The Jakarta Post, Kabinet Kerja diterjemahkan menjadi Working Cabinet. Berbeda. Beda ketika tim editorial media tersebut menggunakan kata working. Ada beberapa alternatif, seperti doing cabinet, occupying cabinet, operating cabinet, or running cabinet. Gue, pribadi menerjemahkan working cabinet as a cabinet which is worked, functioned, and activated. Bukan working cabinet yang diartikan sebagai kabinet kerja, kerja seperti kuli, kerja seperti supir, kerja seperti pegawai, kerja yang waktunya bisa tak berbatas atau bahkan penuh batasan. Arti kata kerja lebih dari melakukan dan bergerak, tapi berfungsi dan aktif. Kalo melakukan sesuatu tapi tidak berfungsi, apa guna? Tapi tidak aktif, kapan selesai? 

Kemudian, kata kerja memaksa masyarakat menjadi lebih kaku; berbenturan dengan peraturan, waktu, dan kebiasaan. Masyarakat akan terus bergerak, bisa semakin banyak yang sikut sikutan, semakin banyak yang cari muka, semakin tinggi persaingan. Gue tidak siap. Sangat tidak siap dengan persaingan. Gue butuh ruang dan kepercayaan untuk kerja. Bukan waktu atau aturan.  Tapi, karena Belanda dan Jepang sudah membiasakan kita untuk kerja rodi, kerja paksa dan nama asing lainnya, gue rasa masyarakat kita akan merecall memori dan kebiasaan itu secara tidak langsung. Dan, kerjaan kita pun nampaknya agak sulit untuk memiliki fungsi. Masa, harus nunggu beratus-ratus tahun? 

Selain itu, image “kerja” yang ditampilkan oleh Mr. Presiden seperti hanya berupa anti tesis dari pemerintahan sebelumnya yang tidak terlihat kerja, apalagi Mr. Buds. Anti tesis ini tentu saja disambut positif oleh khalayak, apalagi mereka yang jenuh dan lelah dengan lambatnya perubahan. Padahal, nyatanya ya, secara tidak langsung, kondisi ekonomi kita ada di trek yang tepat. Indonesia bisa melewati krisis ekonomi yang dihadapi oleh Negara lain di 10 tahun terakhir. Hal yang berkebalikan ini menjadi seperti pemicu untuk pembuktian, kalo pemerintah juga bisa kerja, tidak hanya penduduknya. Bagus juga! Gue dan teman teman gue akan lebih apresiasi jika pemerintah juga mau ikutan “kerja”. 

Tapi, gue berharap lebih dengan kabinet kerja ini. Kalo gue boleh ngutip omongan orang yang gue cari di google, Maxim Gorky bilang “When work is a pleasure life is joy! When work is a duty, life is slavery”. So, I expect Working Cabinet to Work. 

Di sisi lain, isi kabinet Mr. J cukup variatif, popular, dan menarik. Contohnya, Pak Anies, yang akhirnya sesuai harapan gue dan beberapa orang yang peduli pendidikan, menempati pos Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah. Sosok harapan, sosok yang semoga bisa membawa pendidikan wajib 12 tahun, kurikulum 2013, dan sertifikasi guru jadi berfungsi jauh dari korupsi dan taat administrasi. Gue, yang sempat jadi pengajar di SMP swasta selama satu semester, sangat berharap pihak kementrian memperhatikan kinerja guru bukan hanya dari materi sekolah dan kewajiban administratif seperti rapot, penilaian, silabus, dan rpp tetapi juga memperhatikan guru yang belum mengambil sertifikasi dan belum memiliki NUPTK. 

Pihak kementrian bisa memfasilitasi dan mensosialisasi bagaimana sesungguhnya sertifikasi itu berfungsi. Masih banyak teman-teman saya yang baru hitungan semester mengajar di sekolah, belum paham apa itu sertifikasi, apa guna sertifikasi, apa tujuan sertifikasi. Atau, jangan jangan cuma proyek kementrian bernilai jutaan? 

Ah, sudahlah. Apa daya gue meracau serampangan seperti ini? Sudah jelas kok, Mr. J meminta kabinetnya, parlemennya, dan rakyatnya untuk: Kerja, Kerja, Kerja! Lebih baik, gue kembali ke meja kerja, baca berita, analisis, dan bikin summary lagi. 


Mampang Prapatan, 4.11.14
C.M.

1 comment: