Halo, saya mencoba kembali menulis yang agak
panjang. Sebenarnya mau nulis di blog yang panjang terus, tapi entah kenapa
sulit sekali, jadilah beberapa posting sebelumnya cuma seiprit. Kalo
melihat tulisan-tulisan yang seiprit itu, mungkin karena pengaruh kawan saya
@hamoezi, @yusanalendra, @jafarkibs, dan @korezako. Mereka berempat meracuni
saya dengan berbagai macam jenis sastra modern (menurut saya) berupa sajak dan
fiksi mini. Kalau tidak percaya boleh kunjungi akun twitter mereka dan lihat
twit serta blog mereka. Dijamin lebih baik dari punya saya. Kemampuan saya
menyerap sesuatu yang baru memang luar biasa, namun tidak bertahan lama. Saya
sering pindah ke hal-hal yang lebih baru dan lebih kekinian, tapi juga tidak
jarang pindah ke hal-hal yang sebelumnya sudah ada dan kini menjadi sepi
peminat. (line pop contohnya, karena
sekarang kebanyakan orang bermain line pakopang).
Masuk ke ide penulisan kali ini. Saya menamai
tulisan ini dengan “sosok itu”. Ini sebuah bentuk usaha saya mengapresiasi
karya dan kemampuan seseorang yang berpengaruh untuk saya. Karena, rasanya
apresiasi langsung itu lebih berharga ketimbang pujian di televisi dan jutaan
followers di twitter hehe.
Pertama, tulisan ini juga dipengaruhi oleh Pandji
Pragiwaksono. Saya ingat, di 2012 lalu, awal saya menulis di blog ini ya karena
pengaruhnya, sampai saya akhirnya ikut serta mendukung bang Faisal Basri dan
bang Biem Benyamin di pilkada DKI tahun lalu. Dalam bentuk tulisan. Saya sangat
sering membaca blog pribadi @pandji di www.pandji.com
banyak idenya yang dengan cepat meracuni saya. tidak hanya bukunya
(Nasional.Is.Me dan Berani Mengubah) albumnya (32) juga mempengaruhi saya dalam
berkarya. Blog terbaru beliau yang saya baca adalah mengenai seorang politisi
muda, pak Anies Baswedan. Tulisan mas @pandji mengenai beliau begitu hebatnya
meracuni saya. jadilah, saya kali ini ikutan mau menulis mengenai pak Anies
Baswedan. Hehe
Pak Anies Baswedan seorang politisi, tapi saya
lebih suka menyebutnya sebagai seorang pendobrak. Beliau mendobrak dunia
pendidikan dengan menjadi rektor termuda di Indonesia saat ini, meskipun hanya
universitas swasta. Tidak hanya itu, beliau juga menjadi founder Indonesia Mengajar sebuah yayasan yang mampu menggerakan anak
muda Indonesia untuk mengajar ke daerah pelosok selama setahun dengan fasilitas
yang seadanya. HEBAT! Pendobrak.
Kemudian, beliau kembali mendobrak dengan
mengikuti konvensi Partai Demokrat. Yang saya tahu, beliau itu sempat akrab
dengan partai baru NasDem, tapi seiring berjalannya waktu beliau kerap
dihubung-hubungkan dengan partai lainnya. Konvensi partai Demokrat yang diikuti
oleh sebelas orang (tapi hanya beberapa yang saya tahu) ini memunculkan kembali
nama Anies Baswedan ke permukaan, Banyak yang mendukung, tidak banyak juga yang
mencela. Tapi, yang pasti beliau menjelaskan di akun twitter pribadinya dengan
tagar #turuntangan. Pembaca boleh membaca sendiri penjelasan beliau. Saya pribadi,
agak kurang mendukung dengan keputusan beliau, karena beberapa hal yang
pastinya subjektif dan dangkal. Namun, poin saya kepada pak Anies Baswedan
adalah, beliau harus fokus dulu membereskan bidang pendidikan Indonesia yang
sedang menunjukan tren positif. Menjadi Menteri Pendidikan adalah yang paling
ideal. Bayangkan, jika beliau menjadi Menteri Pendidikan. Sosok professional di
bidangnya. Dan saya sudah tidak sabar menunggu keputusan beliau jika kelak
beliau benar-benar menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
menggantikan menteri yang sekarang pastinya hehehe
Mereka semua yang saya sebutkan di atas, menjadi
inspirasi sekaligus refleksi diri saya pribadi. Baru beberapa, masih banyak
lagi mereka yang berpengaruh. Semoga pembaca juga bisa menemukan sosok itu
dengan sadar. Sosok yang membawa kita ke arah yang lebih baik. we might not be the best, but we try to be
better. We can’t measure it, we can only feel it.
No comments:
Post a Comment